Bertengkar , boleh tapi yang sehat

Bertengkar , boleh aja asal secara sehat. Sebab tidak ada pasangan yang tidak pernaah bertengkar. Pasangan paling harmonispun, pernah mengalaminya. Tapi bagaimana bertengkar yang sehat?

Komunikasi Keras

Pertengkaran bisa diibaratkan sebagai bentuk komunikasi “keras”. Penyebabnya sendiri memang bermacam-macam. Antara lain, beda pendapat, tidak puas , atau keadaan emosional salah satu atau kedua belah pihak.

Jadi bisa dikatakan , pertengkaran merupakan salah satu mengekspresikan keinginan , kebutuhan , perasaan atau pikiran yang berlangsung dalam temperatur tinggi.

Yang membedakan pertengkaran dengan komunikasi “biasa” adalah tingkat stress yang ditimbulkan , intensitas dan caranya.

Pertengkaran merupakan indikasi adanya hambatan komunikasi , sehingga emosi-emosi negatif akibat menumpuknya masalah terdahulu meletup dalam waktu bersamaan.

Dampak positif

Sehebat-hebatnya pertengkaran, asal disingkapi dengan baik , akan mendatangkan manfaat yang besar bagi pasangan yang terlibat. Dengan bertengkar, masing-masing pribadi akan saling memahami perbedaan diantara keduanya.

Pertengkaran yang disertai dengan rasa marah akan menimbulkan energi psikis yang kuat. Dan umumnya , sesuatu yang selama ini terpendam bisa terungkap. Tapi ingat , dalam bertengkar yang terpenting adalah kontrol diri.

Jangan melakukan sesuatu diluar batas, memukul misalnya. Selain itu pertengkaran juga bisa menambah kemesraan. Biasanya, hubungan intim yang dilakukan setelah bertengkar akan terasa lebih hidup dan memnggairahkan , begitu sebagain pendapat beberapa ahli psikologi, sedang yang masih single , cendrung menuangkan emosi kehal-hal yang bisa memacu andrenalin semisal panjat tebing , balapan , catur ( emangnya ngangkat kuda nggak berat !) dan berbagai olahraga ekstrim lainnya.

Etika bertengkar

Agar pertengkaran membuahkan manfaat . Ikuti etika pertengkaran dibawah ini :

1. Jaga nada suara Anda.. Jangan berteriak-teriak dalam menyampaikan keinginan Anda , apalagi dirumah ada kerabat dekat, atau anak-anak.

2. Jangan bicara terlalu cepat . Kata-kata yang diucapkan secara hampir bersamaan , akan susah diterima dengan baik oleh pasangan.

3. Jangan mengelurakan kalimat yang dapat menyinggung perasaan atau yang membuat pasangan sakit hati. Sebab sesuatu yang menyakitkanumumnyaakan tersimpan dan terus diingat atau menjadi suatu trauma psikis yang berkepanjangaan.

4. Katakan dengan gamblang apa masalah Anda saat itu. Jangan melantur membicarakan masalah yang tak relevan atau sudah lama beralu , meski sekiranya itu hanya kilas balik , hal demikian tidaklah membantu didalam memcahkan suatu persoalan.,

5. Jangan hanya membicarakan kesalahan pasangan Anda saja , tapi juga apa yang Anda inginkan sehingga ia bisa memperbaiki dirinya.Biar lebih fair ijinkan juga dia untuk menilai Anda , kelebihan beserta kekurangannya.

6. Jangan terlalu sering bertengkar sebab tidak menutup kemungkinan pasangan akan ‘imune’ .Membicarakan masalah dalam suasana yang santai , justru akan lebih baik. Hindarkan meluapkan suatu emosi disaat kedua belah pihak dalam keadaan temperamen tinggi, disini peran kecerdasan emosional sangat menentukan didalam mengutarakan permasalahan, baik sumber-sumbernya, penyebabnya maupun solusi yang akan diambil didalam penyelesaian permasalan tersebut.

7. Hindari , Hasrat untuk selalu menang …dalam hal ini hanya untuk memuaskan ego sendiri, bagaimanapun juga pasangan kita punya hak untuk didengar , hak mengikuti ataupun berseberang pandangan dengan diri Anda , maka hargailah dia dan nilai-nilai yang dipercayainya.

8. Jangan sesekali memainkan “tangan” untuk mencapai suatu keinginan …tindakan yang dimaksud ditinjau dari aspek luas semisal : memukul, menuding dengan jari telunjuk , menampar , menendang dsb. Bagaimanapun juga kekerasan tidak akan menyelesaikan suatu permasalahan , pendekatan dari hati kehati dengan niat yang tulus kemungkinan lebih dapat diterima oleh masing-masing pihak.

9. Jangan ragu untuk meminta maaf bila Anda merasa bersalah, dengan begitu pasangan Anda bisa melihat sisi positif dari diri Anda .

10. Komunikasi , Permasalahan timbul kebanyakan disebabkan kurang komunikasi dalam aspek luas semisal ; kurangnya keterbukaan diantara kedua pasangan semisal soal seks, keuangan , rumah tangga, karir dsb. Oleh sebab itu segeralah melakukan komunikasi dua arah secara intim, karena dengan adanya keterbukaan seminimal mungkin bermanfaat untuk mempersempit jarak perbedaan diantara keduanya.

🙂, Yessy N Lumandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: